Functional Skill yang Diperlukan dalam Industri 4.0

Last update on .

Indonesia tengah bertransformasi menuju industri 4.0. Proses produksi di setiap industri akan mulai menggunakan teknologi tinggi seperti kecerdasan buatan, big data, robotika, dan internet of things (IoT). Dengan teknologi ini, proses produksi pun bisa berjalan dengan lebih efektif dan efisien. Tantangan terbesarnya, kehadiran teknologi berarti mengurangi beberapa pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia.

 

Oleh sebabnya, tenaga kerja perlu menguasai sejumlah kemampuan agar pekerjaannya tidak tergantikan oleh teknologi tersebut. Dengan kemampuan ini, tenaga kerja akan lebih unggul ketimbang teknologi, yang pastinya menjadi nilai tambah saat mencari lowongan kerja khususnya di kota-kota besar Indonesia. Selain soft skill, tentu functional skill amat diperlukan oleh pencari kerja dalam era industri 4.0 nanti, mari simak apa saja aspeknya.

 

Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics (STEAM)

 

Penguasaan lima bidang STEAM akan membantu tenaga kerja berpikir kritis dan inovatif dalam menyelesaikan masalah. Metode yang digunakan dalam STEAM bersifat problem-based learning sehingga mereka yang mempelajarinya sudah terbiasa menganalisis dan mencari solusi dari suatu masalah.

 

STEAM akan menjadi akar dari kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan di masa depan. Di antaranya kemanusiaan, kepedulian, komunitas, dan budaya. Dengan menguasai STEAM, tenaga kerja tidak hanya bernilai lebih dari teknologi, tetapi juga sudah bersiap untuk industri di masa depan.

 

Kemampuan sesuai disiplin ilmu

 

Ketika tenaga kerja membutuhkan pekerjaan, lowongan kerja yang pertama dicari tentu berkaitan dengan disiplin ilmu yang dipelajari di bangku kuliah. Oleh karena itu, disiplin ilmu itu harus dikuasai dengan baik dan tepat agar bermanfaat di dunia kerja. Meski STEAM menjadi dasar dalam penyelesaian masalah, disiplin ilmu dari setiap bidang bisa jadi sumber untuk menganalisis masalah secara lebih rinci.

 

Literasi data dan teknologi

 

Di era digital ini, data dan teknologi menjadi hal yang sangat penting. Para digital natives yang lahir mulai 1990-an saat teknologi tengah berkembang tentu sudah fasih menggunakan teknologi. Ini tentu berbeda dengan orangtua mereka yang lahir sebelum teknologi ada (lazim disebut sebagai digital immigrants) dan harus mempelajarinya. Namun, literasi data dan teknologi tidak hanya soal penggunaannya, karena harus bisa memanfaatkan data dan teknologi dalam menyelesaikan pekerjaan agar hasilnya lebih maksimal.