Virtual Meeting Dapat Menguras Energi?

Last update on .

Pandemi COVID-19 belum berakhir. Sampai saat ini, kita masih harus berdiam diri di rumah, menghindari berada di keramaian dengan orang lain, serta menjaga jarak dengan orang lain. Bermacam kegiatan yang biasanya kita lakukan di luar terpaksa harus dilakukan dari rumah, termasuk sekolah, kuliah, seminar, bekerja, berdiskusi, bahkan untuk sekadar melepas rindu dan berbincang santai dengan teman-teman.

 

Tidak ada pilihan lain kecuali menggeser aktivitas kita menjadi lewat video call dengan berbagai aplikasi, seperti Zoom, Google Meet, maupun Whatsapp Video Call. Meskipun terlihat sederhana dan praktis, tak jarang kita sering merasa energi begitu terkuras, sampai-sampai merasa sangat lelah setelah melakukan virtual meeting dalam durasi yang agak panjang.

 

Dari sudut pandang psikologi, fatigue adalah keadaan psikis, baik dari segi emosi dan proses berpikir yang berhubungan dengan rasa lelah, motivasi yang berkurang, juga energi yang terkuras. Fatigue tidak bisa dihilangkan hanya dengan istirahat. Padahal umumnya, istirahat adalah solusi saat kita merasa lelah. Fatigue bisa juga dilihat sebagai respon manusia terhadap tuntutan dari luar dan luar dirinya yang melebihi kemampuannya. Fatigue juga berkaitan dengan stres, kecemasan, bahkan depresi. Hal yang perlu digaris bawahi, fatigue ini bukan sekadar lelah biasa.

 

Berakar dari istilah fatigue, hal yang akan dibahas selanjutnya adalah video conference fatigue. Video conference fatigue adalah sebuah kondisi ketika seseorang merasa lelah, terkuras energinya, cemas, gelisah, mengantuk, dan kurang motivasi akibat terlalu sering melakukan virtual meeting. Hal ini menjelaskan bahwa duduk diam atau bahkan bersikap santai di depan layar, tidak menjamin kita akan merasa tetap segar setelah virtual meeting dilakukan.

 

Penyebab video conference fatigue ialah dari segi fisik. Layar handphone atau laptop yang terbatas, membuat kita duduk atau bertahan di posisi yang sama dengan mata yang harus fokus ke layar selama berjam-jam. Hal ini membuat tubuh kita sakit dan mati rasa, seperti di daerah punggung, leher, dan kepala. Jika berinteraksi secara langsung, kita bisa berganti posisi serta bergerak lebih leluasa.

 

Selanjutnya, kita membutuhkan usaha yang lebih besar untuk memproses sinyal nonverbal dari orang lain untuk mendukung pemahaman kita atas yang disampaikannya selama virtual meeting. Sinyal nonverbal ini dapat berupa ritme suara, ekspresi wajah, gestur, dan postur tubuh. Karena terbatas dalam layar video, kita berusaha keras menangkap informasi dari banyak orang dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akhirnya membuat kita merasa lebih cepat lelah. Ketika kita melakukan interaksi tatap muka, maka kita memproses itu semua dengan usaha yang relatif lebih kecil secara otomatis.

 

Selain itu, kita sulit untuk fokus melakukan kontak mata terhadap satu orang. Kondisi virtual meeting membuat kita melihat banyak orang secara bersamaan, sehingga sulit fokus untuk melakukan kontak mata terhadap satu orang yang berbicara atau saat berinteraksi dengan kita. Padahal, kontak mata bisa meningkatkan keterhubungan dengan orang lain, mempercepat respons atas perkataan, juga memudahkan kita untuk merekam wajah orang lain di otak kita.

 

Tak ketinggalan jeda ketika kita dan orang lain berbicara. Berbagai aplikasi video call memiliki keterlambatan respons sekitar 150 milidetik. Meskipun tidak terlalu lama, tetapi ini berbeda dengan interaksi tatap muka. Kita tidak perlu menunggu orang lain untuk merespons perkataan kita. Belum lagi jika ucapan kita berbarengan dengan orang lain, sehingga harus mengulang ucapan kita.

 

Virtual meeting menjadi alternatif untuk tetap bisa beraktivitas normal seperti sebelum terjadi pandemi. Mulai dari sekolah, rapat, atau sekadar berbincang dengan teman. Walaupun terlihat sebagai pekerjaan sederhana, virtual meeting ternyata dapat menyebabkan fatigue dari segi fisik, emosi dan pikiran. Hal ini terjadi karena diri kita bekerja lebih keras untuk memproses informasi selama virtual meeting.