(Sumber: Factoryberlin.com)
(Sumber: Factoryberlin.com)

Last update on .

Mungkin nama Alice Bentinck tidak terlalu dikenal oleh masyarakat awam di Indonesia. Namun bagi entrepreneur yang mencoba mendirikan startup, maka Alice Bentinck diidentikan dengan Entrepreneur First. Perusahaan yang dibangun olehnya tersebut ditujukan untuk mencari para individu berprestasi dan memiliki jiwa sebagai wirausaha. Kemudian para calon entrepreneur tersebut didorong untuk mendirikan startup yang kelak dapat bersaing di panggung dunia.

Perjalanan Alice Bentick dimulai ketika ia bekerja sebagai analis bisnis di McKinsey & Company selama sekira dua tahun di London, Inggris. Namun ia merasa bahwa dirinya bisa berbuat lebih dan menjadi analis bisnis bukan jalan kariernya. Karena itulah, perempuan Inggris itu memutuskan untuk resign dan bersama dengan mantan karyawan McKinsey lainnya, Matt Clifford, keduanya mendirikan Entrepreneur First.

 

 

Sebagaimana dilansir dari laman Entrepreneur, perusahaan tersebut bergerak di bidang pembangunan startup dengan tujuan utama mendukung para individu yang berbakat serta ambisius untuk menjadi founder sebelum mereka memiliki tim dan ide bisnis. Saat ini Entrepreneur Fist memiliki enam kantor yang berlokasi di London, Paris, Singapura, Hong Kong, dan Bangalore.

“Saya mencari orang-orang yang telah mencapai hal-hal luar biasa dibandingkan dengan rekan-rekan mereka dan yang telah menantang ‘status quo’. Dan kewirausahaan membutuhkan dedikasi. Saya mencari orang-orang yang mendefinisikan diri mereka melalui pekerjaan mereka dan ingin mendedikasikan hidup mereka untuk hal tersebut,” ucap Alice Bentinck terkait Entrepreneur First.

(Sumber: wired.co.uk)

Ia memandang Asia merupakan lokasi yang penting di dunia terkait lahirnya para founder berkualitas. “Asia memiliki beberapa talenta teknis serta universitas terbaik di dunia, disandingkan dengan potensi pertumbuhan terbesar. Ketika kamu melihat besarnya peluang dan faktanya bahwa hal tersebut masih belum dimanfaatkan, terutama pad atingkat kami beroperasi, kami hanya baru di ‘permukaan’ saja. Sebagai pelopor model ‘pertama bakat’, kami berkomitmen untuk mendukung orang-orang paling berbakat dan ambisius di kawasan ini dengan membawa EF (Entrepreneur First) ke Asia,” jelasnya.

 

 

Alice Bentick mengambil contoh salah satu founder yang berkembang atas arahan tim dan perusahaannya. Founder itu bernama Rohit Jha, ia belajar coding di India semenjak remaja dan bekuliah teknik listrik di Singapura. Namun, setelah lulus ia malah menjadi pialang saham karena tidak mendapatkan bantuan untuk merealisasikan ambisinya dalam mendirikan startup.

Kemudian Rohit Jha pun mendengar mengenai Entrepreneur First di Singapura atau EFSG1 dan memutuskan untuk bergabung. Saat ini ia sudah menjadi CEO dari Transcelestial Technologies yang berhasil mengumpulkan jutaan dolar untuk mengembangkan teknologi koneksi super cepat yang memanfaatkan laser.