(Sumber foto: Timeofisrael.com)
(Sumber foto: Timeofisrael.com)

Last update on .

Dari awal tahun 2019, perusahaan Microsoft dibayangi kabar gembira. Pasalnya, Microsot berhasil menyalip Amazon, Google, dan khususnya Apple dalam valuasi pasar dengan lebih dari USD1 triliun. Dengan ini, raksasa teknologi tersebut digadang-gadang menjadi perusahaan paling bernilai di dunia. Namun, kabar ini tidak disambut dengan pandangan positif oleh CEO Microsoft Satya Nadella. Ia memandang bahwa kesuksesan ini tidak membuat para pegawai Microsoft termotivasi untuk lebih maju dan berinovatif.

Pernyataan itu disampaikan Satya Nadella saat ia bertemu pihak Bloomberg Businessweek. Ia merasa peningkatan valuasi perusahaan yang dipimpinnya tersebut bukan sesuatu yang perlu dirayakan dan merasa geram jika para staf di Microsoft merasa jemawa karena hal tersebut. Karena yang justru diinginkan oleh sang CEO Microsoft itu adalah perusahaannya lebih maju dari segi internalnya.

“Di Microsoft kami memiliki kebiasaan yang sangat buruk karena tidak dapat mendorong diri sendiri karena kami hanya merasa sangat puas dengan keberhasilan yang kami miliki. Kami belajar bagaimana untuk tidak melihat masa lalu,” ungkap pria asal India tersebut, sebagaimana dilansi dari laman Bussiness Insider.

 

BACA JUGA:

SHARE.INC, Platform Berbagi Ilmu dalam Menghadapi New Normal

Google Punya Ini untuk Menjaga Kenyamanan Pegawainya

 

Pernyataan tersebut terbilang dapat dipahami mengingat sebelum ia menjadi CEO, Microsoft sempat mengalami “kemandekan”. Karena Microsoft sempat tertinggal dalam tren teknologi yang booming pada tahun 2000-an.

Dari mulai gagalnya mengikuti persaingan tren perkembangan ponsel pintar, mesin pencari, hingga media sosial. Sehingga perusahaan teknologi tersebut terkesan hanya fokus dengan sistem operasi Windows untuk PC dan pengembangan konsol video games Xbox. Oleh karena itulah ia tidak ingin para pegawainya merasa terlalu nyaman dengan meningkatnya valuasi pasar terhadap Microsoft.

Namun semenjak Satya Nadella mengemban jabatan sebagai CEO Microsoft semenjak tahun 2014, ia pun melakukan perombakan yang bertujuan agar perusahaan tersebut dapat kembali menjadi raksasa teknologi yang berinovasi. Ia merubah pola pikir dari tim di Microsoft yang Satya Nadela sebut berawal dari “pola pikir tetap” (fixed mindset) menjadi “pola pikir perkembangan” (growts mindset).

(Sumber: mspoweruser.com)

Perombakan ini membutuhkan proses yang panjang dan melelahkan. Pasalnya dengan perubahan kultur dari pola pikir, banyak pegawainya yang harus berusaha beradaptasi. Salah satunya adalah melalui pemotongan pendanaan untuk Windows dan mengalihkan fokus untuk membangun bisnis cloud computing. Namun langkah CEO Microsoft tersebut terbukti berhasil. Mengingat keputusan Satya Nadela itu menghasilkan pendapatan sekira USD34 miliar untuk Microsoft di tahun 2018.

 

BACA JUGA:

Meski Concern dengan Corona, Bill Gates Tetap Perhatikan Keluarganya

Ini yang Diberikan Amazon jika Pegawainya Resign dan Jadi Pengusaha