4 Kesalahan Founder Startup saat Memulai Bisnisnya
4 Kesalahan Founder Startup saat Memulai Bisnisnya

Last update on .

Ketika berkecimpung di dunia entrepreneur, seorang founder startup memiliki kepercayaan diri terhadap visinya serta idenya yang dapat terealisasi menjadi bisnis yang sukses. Bahkan tidak sedikit yang memandang ide bisnisnya juga dapat menciptakan masa depan yang lebih baik untuk sang founder dan orang lain. Namun sayangnya, dalam perjalanan realisasi ide tersebut, sebagian mereka ada yang tidak sabar dan menyerah ketika mengalami kesalahan yang menjegal pengembangan bisnisnya. Lantas sebenarnya, bagaimana seorang entepreneur harus bersikap? 

Dalam kenyataannya, memang banyak founder startup yang sukses dengan bisnisnya dan memberikan kontribusi besar untuk dunia. Sebut saja Elon Musk. Sebagai entrepreneur, ia sukses dengan membangun bisnisnya di bidang teknologi. Namun, kesalahan serta kegagalan juga membayanginya dalam menapaki kesuksesan. Dari mulai saat produk Tesla-nya yang mengalami masalah teknis hingga gagalnya peluncuran roket SpaceX.

Dari cerminan Elon Musk ini, bisa diketahui bahwa seorang entrepreneur yang sukses pun dapat tersandung dengan kesalahan, apalagi founder startup. Oleh karena itulah, founder startup biasanya tidak menyadari dengan kesalahan yang mungkin muncul di depan mereka dan memicu terhambatnya pengembangan bisnis. Sebagaimana dilansir dari laman Entrepreneur (20/5/2019), berikut ini kesalahan yang biasa dilakukan oleh founder startup saat baru memulai bisnisnya.

1. Tak Mengindahkan Risiko Pasar

Sekadar informasi, risiko pasar merupakan risiko yang muncul akibat pergerakan berbagai faktor di pasar. Biasanya, kesalahan pertama yang dilakukan founder ketika merealisasikan ide bisnisnya adalah cenderung tidak mengindahkan risiko pasar akibat kurangnya melakukan riset.

Karena mayoritas para founder startup bergerak di bisnis yang tidak bisa dilepaskan dari aspek teknologi, mereka berfokus terhadap penyempurnaan platform teknologi tersebut. Di sisi lain, para founder tidak memiliki data lengkap untuk melihat apakah hal itu memang memiliki nilai bisnis.

Menurut buku "America’s Most Successful Startups: Lesson for Entrepreners" karya Max Finger dan Oliver Samwer, kebanyakan startup membakar banyak uang dengan produk atau teknologi demi mencari solusi. Menurut penulis buku tersbeut, seorang founder startup sebenarnya perlu waktu enam bulan untuk berbicara dengan target konsumen mereka demi memahami kebutuhan dan menyesuaikan dengan ide bisnis sang founder.

2. Mendengarkan Saran yang Salah

Saat kamu memulai bisnis startup, mungkin kamu berpikir ingin mendengar pengalaman para entrepreneur yang telah lama berkecimpung di dunia kewirausahaan. Hal ini memang bagus untuk kamu yang baru saja menjadi founder startup. Namun ada baiknya, saat menerima saran tersebut kamu pertimbangkan terlebih dahulu sebelum mendengarkannya secara 100 persen dan mengadaptasinya di bisnismu. Karena bisa saja saran yang diberikan itu tak sejalan dengan visi bisnismu.

Salah satu saran atau masukan yang paling bagus untuk bahan pertimbangan founder startup adalah dari pihak modal venturan serta individu yang berpotensi jadi target konsumenmu. Mungkin saran tersebut bisa saja muncul ketika mereka menolak untuk menyuntikkan dana atau enggan membeli produkmu. Dengan saran tersebut, kamu bisa menjadikannya sebagai masukan untuk perkembangan bisnismu ke depannya.

Bergerak Terlalu Cepat