Ini Kesalahan Saat Buat Resume Menurut Pakar
Ini Kesalahan Saat Buat Resume Menurut Pakar

Last update on .

Salah satu aspek penting dalam proses pencarian kerja para jobseeker adalah mengirim resume kepada HRD dan manajer perekrutan. Pada umumnya, resume tersebut dibuat atas dasar contoh yang mereka dapatkan dari teman atau mengunduhnya dari internet. Dengan demikian, pola penulisannya pun kerap kali terasa serupa antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itulah, CEO Resume Writers Ink Tina Kashlak Nicolai menemukan banyak kesalahan yang serupa di resume para jobseeker.

Nicolai sebenarnya menyadari hal tersebut semenjak ia bekerja sebagai perekrut pegawai baru untuk Walt Disney World pada tahun 1990-an. Kesalahan pada resume tersebut digambarkan oleh Nicolai dengan mengklaim bahwa para jobseeker dipandang kurang mampu “memasarkan” diri mereka sendiri atas prestasi mereka.

“Dan dari sanalah saya tahu ada pasar untuk mendidik kandidat para pencari kerja di semua tingkatan dan di semua industri,” ucapnya sebagaimana dikutip dari laman Businessinsider (12/6/2019). Pada tahun 2010, Nicolai pun mendirikan Resume Writers Ink dan menjelaskan telah membaca lebih dari 50.000 resume untuk lowongan kerja yang dikirimkan para jobseeker yang menggunakan jasa perusahaannya.

Dari puluhan ribu resume tersebut, Nicolai pun menganalisanya secara seksama dan menemukan sejumlah kesalahan yang kerap muncul. Berikut ini kesalahan-kesalahan tersebut yang menurut pandangan CEO Resume Writers Ink itu sangat menjengkelkan untuk pihak perekrut:

  • Ceroboh

“Para pencari kerja membuat kesalahan terbesar: Mereka ceroboh, mereka kurang memperhatikan detail. Mereka malas!” tegas Nicolai. CEO Resume Writer Ink itu menyebut, kecerobohan itu terlihat dari banyaknya typo, pilihan jenis huruf yang tak profesional, informasi yang tidak update, sampai dicantumkannya informasi yang tidak relevan.

  • Summary atau ringkasan yang terlalu panjang

Hal menjengkelkan lainnya menurut Nicolai adalah ia menemukan summary pada resume terasa panjang dengan banyaknya kata sifat. “Setelah beberapa saat, ringkasan dapat dibaca seperti bab yang panjang dalam sebuah buku. Lebih baik untuk membuat daftar dengan bullet yang dikerucutkan kepada prestasi, dan kalimat tag line,” tuturnya.

  • Menyantumkan sesuatu yang jelas

Menurut Nicolai, jobseeker tidak perlu menuliskan kata seperti “ponsel” atau “email” di depan nomor ponsel atau alamat email. “Berhenti menyatakan sesuatu yang sudah jelas,” tegasnya.

  • Tak memasukan referensi

Acap kali resume yang menggunakan bahasa Inggris menyatumkan kalimat “References availabe upon request atau refensi tersedia atas permintaan. Menurut Nicolai, ini membuang kesempatan berharga job seeker untuk membuat manajer perekrutan tertarik. Ia menyarankan para job seeker untuk langsung memasukan kalimat branding mengenai referensi diri atau bisa juga URL akun LinkedIn milikmu.

  • Memasukan kata “Responsible for/bertanggung jawab untuk” pada daftar bullet

“Kandidat perlu memahami bahwa memulai kalimat dengan ‘bertanggung jawab untuk’ berarti memberi tahu pembaca apa yang dibutuhkan pekerjaanmu tapi tidak menyatakan bahwa kandidat benar-benar menjalankan fungsinya,” ucapnya. Oleh karena itulah, ia lebih menghargai jobseeker yang meluangkan waktu menjelaskan apa yang telah mereka capai saat bekerja dulu.

  • Terlalu formal dan banyak memasukan jargon

CEO Resume Writer Ink itu menjelaskan, ia lebih banyak membaca resume yang bersifat terlalu formal. Padahal ini dianggap tidak terlalu menarik dan tak memungkinkan orang yang membacanya mendapatkan gambaran dari kepribadian si jobseeker. Kesalahan terakhir yang ia temukan adalah terlalu banyak jargon yang dimasukan ke dalam resume dan bersifat cliché, seperti “team player” serta “out-of-the-box