(Sumber: entrepreneur.com)
(Sumber: entrepreneur.com)

Last update on .

Dengan modal seadanya, Konosuke Matshusita pun mencoba membuka toko dengan menjual alat-alat listrik dengan produk andalannya adalah stopkontak listrik buatannya. Sayangnya kurangnya pengetahuan di bidang manajemen serta penjualan, membuat pemasukan dari toko tersebut buruk dan nyaris bangkrut. Untungnya, munculnya pesanan seribu pelat insulator untuk kipas listrik membuat Konosuke Matshusita masih bisa bernapas lega dan tokonya terselamatkan.

Dengan usahanya yang mulai dikenal oleh publik, Konosuke Matsushita pun melakukan ekspansi dengan menyewa rumah dua lantai dan mendirikan Matsushita Electric Houseware Manufacturing Works. Ia pun kembali melakukan inovasi untuk dijual di usahanya, yakni steker serta soket dua arah.

Alat-alat listrik yang diproduksi oleh Matsushita Electric Houseware Manufacturing Works pun mulai banyak dikenal dan dibeli oleh para pedagang grosir. Pasalnya, perusahaan kecil itu mampu menghadirkan produk listrik dengan kualitas bagus serta harga murah dibandingkan yang dijual oleh perusaan lainnya.

Salah satu produk andalannya adalah lampu sepeda dengan baterai yang lebih efisien yang di mana lampu tersebut dapat bertahan hingga 40 jam dibandingkan lampu yang beredar di pasaran kala itu. Menariknya, produk ini ditolak oleh para pedagang grosir yang memandang Konosuke Matsushita hanya sesumbar. Pendiri Panasonic itu kemudian memutuskan untuk mengirimkan sample ke toko-toko sepeda untuk membuktikan produknya memang sesuai dengan klaimnya. Ketika terbukti, Matsushita Electric Houseware Manufacturing Works dibanjiri pesanan lampu sepeda.

Pada tahun 1927, Konosuke Matsushita mengembangkan lampu sepeda bertenaga baterai gerasi kedua dan ia ingin produknya ini memiliki nama brand yang unik. Ia pun bertemu dengan kata international di koran dan mencari tahu artinya di kamus. Ternyata kata dalam bahasa Inggris itu terbagi atas dua penggalan kata dan national yang mengetuk hatinya. Akhirnya ia memilih kata tersebut untuk branding produknya yang kelak berganti menjadi Panasonic.

Kesuksesan produknya di pasaran membuat Konosuke Matsushita kembali mengembangkan perusahaannya yang di mana ia menerapkan struktur baru. Pada tahun 1929, perusahaannya dibagi menjadi perusahaan utama dengan berbagai divisi yang memiliki fokus produksi yang beragam. Ada yang fokusnya untuk lampu sepeda serta baterai, ada divisi soket listrik, dan divisi radio dengan pabrik yang tersebar di berbagai lokasi di Jepang.

Namun perusahaan Konosuke Matsushita nyaris dibubarkan pasca-Perang Dunia II. Mengingat ketika Negeri Sakura kalah, Amerika Serikat menduduki negara tersebut dan terdapat kebiakan dari militer Negeri Paman Sam kala itu yang memutuskan untuk meruntuhkan usaha para konglomerat yang memiliki banyak usaha di Jepang. Untungnya sebagaimana dilansir dari panasonic.com (9/5/2019), para karyawan serta serikat pekerja dan para pemilik toko ritel di Negeri Sakura mengajukan petisi agar Konosuka Matsushita dan usahanya jangan diganggu gugat.

Nama Panasonic sendiri hadir usai Konosuke Matsushita mengunjungi Amerika Serikat dan bertemu dengan para pengusaha ritel di sana. Ia ingin barang-barang elektronik produksi perusahaannya juga dijual di sana tapi sayangnya brand National sudah ada di Barat. Karena itulah ia akhirnya memutuskan untuk menggunakan Panasonic untuk brand yang dijual di luar Jepang.

Entrepreneur itu akhirnya mundur dari jabatannya sebagai Presiden Panasonic pada tahun 1961 dan menyerahkannya kepada menantunya. Namun Konosuke Matsushita masih aktif di perusahaan yang dibanggunnya itu hingga tahun 1973 dan ia mengembuskan napas terakhirnya pada 27 April 1989 karena radang paru-paru.

Sebelumnya...